Menata Pikiran - Menyusun Obrolan
Sudah dua minggu lamanya aku tidak
menulis. Mungkin karena malas atau karena rutinitas, entalah, aku tidak tahu.
Belakangan ini aku mersakan betapa susah sekali untuk menulis. Jangankan
menulis satu paragraf, menulis satu kalimat pun bagiku terasa sulit akhir-akhir
ini, seakan kata-kata menghilang dari pikiranku.
Aku merasa pikiranku mulai tumpul,
mulai kehilangan referensi sehingga aku tak mampu terpikir menulis apa. Menurut
banyak orang, keadaan ini disebut writer’s block,
kondisi di mana seorang penulis mengalami kebuntuan, merasa sulit atau bahkan
tidak mampu menghasilkan tulisan.
Tapi menurutku tidak demikian.
Kusimpulkan, hari ini aku tidak bisa menulis hanya karena kekurangan referensi, kurang membaca. Aku ingat pernah mendengar atau membaca, entahlah, aku lupa.
Menurut Pramoedya Ananta Toer, “untuk menulis satu paragraf harus membaca
minimal sepuluh buku”.
Mungkin melalui kalimat tersebut, Bung
Pram ingin menyampaikan pesan metaforis: jika ingin menulis, maka harus banyak
membaca. Pesan ini tidak hanya berkaitan dengan pencarian ide, tetapi juga
dengan bagaimana membaca memengaruhi kualitas tulisan, mulai dari struktur,
alur, hingga kedalaman isi.
Jika direnungkan lebih jauh, kondisi
aku hari ini sejalan dengan pernyataan Pram, tidak banyak membaca membuatku
tidak punya banyak ide. Apalgi selama beberpa bulan belakangan ini aku jarang
sekali membaca buku, maka tidak heran pikiranku kopong.
Tapi sebenarnya aku tidak suka menulis
karena terasa sangat sulit, dan aku juga tidak suka membaca karena menurutku
terlalu banyak memakan waktu. Yang benar-benar aku suka hanyalah ngobrol
ngalor-ngidul, melepas penat sambil membiarkan pikiran mengalir tanpa beban.
Sayangnya, menurutku mau tidak mau,
untuk bisa ngobrol ngalor-ngidul tetap diperlukan pengetahuan. Agar apa? Agar
apa yang aku bicarakan memiliki isi dan kedalaman, sehingga tidak menjadi
obrolan yang sia-sia. Salah satu cara untuk mengakses pengetahuan itu adalah
dengan membaca. Membaca ibarat memberi bahan bakar pada obrolan, agar setiap
kata yang keluar tidak sekadar mengisi waktu, tetapi juga mampu memberi makna.
Pun dengan menulis, seperti menurut Dea Anugrah: "belajar menulis adalah belajar menata pikiran". Sebab dalam menulis bukan hanya soal melahirkan kalimat, tetapi juga menyusun logika, menata emosi, dan menyingkap makna dari keruwetan yang tak terucap. Untuk itu, ketika pikiran tertata, penyampaian pun ikut tertata, sehingga ketika aku berbicara dapat tersampaikan dengan sempurna.
Faktanya, aku belajar membaca dan
menulis hanya sebagai penunjang hobiku: ngobrol ngalor-ngidul bersama teman,
ditemani kopi panas dan rokok yang kian hari semakin mahal. Pada akhirnya,
bagiku membaca dan menulis bukan tujuan akhir, melainkan jembatan kecil menuju
obrolan hangat yang membuat hidup terasa lebih ringan.

Komentar
Posting Komentar