RELEVANSI TEORI THOMAS HOBBES DAN GAYA BERPOLITIK PRABOWO SUBIANTO
Secara historis Thomas
Hobbes adalah seorang tokoh filsuf besar yang menciptakan teori politik berpengaruh bagi peradaban. Hobbes memperkenalkan konsep leviathan sebagai
simbol otoritas absolut yang mengendalikan aturan secara mutlak.
Teori Hobbes berangkat
dari pemahaman bahwa manusia adalah makhluk egois yang tidak segan menindas
manusia lain untuk kepentingan pribadi (Homo homini lupus). Menurutnya
watak alamiah ini akan melahirkan keadaan alamiah (State of nature),
yaitu suatu kondisi di mana konflik terjadi secara terus-menerus.
Kemudian Hobbes
menawarkan konsep kontrak sosial sebagai solusi atas keadaan alamiah tersebut.
Manusia, mau tidak mau, harus membuat perjanjian bersama untuk membatasi
hak-hak alamiah mereka yang cenderung menyimpang. Perjanjian tersebut kemudian
menjadi hukum yang mengikat setiap individu agar dapat dipatuhi dan
dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Maka leviathan adalah
cara yang digunakan oleh Hobbes sebagai simbol otoritas tertinggi dan absolut
yang memiliki wewenang untuk mengatur dan menjalankan aturan yang sudah
disepakati dalam kontrak sosial.
Dalam konteks politik
indonesia hari ini, gaya berpolitik Prabowo Subianto jadi menarik jika kita
kita analisis melalui paradigma Thomas Hobbes, mengingat
prabowo adalah presiden yang memiliki kecenderungan ingin membentuk negara kuat
secara militer. Sehingga ini memunculkan urgensi untuk menganalisis apakah
gaya berpolitik Prabowo Subianto bisa menjadi representasi dari teori leviathan
Thomas Hobbes.
Maka keterkaitan ini
penting kita ketahui untuk melihat gambaran bagaimana politik klasik bisa ter
representasi dalam praktik politik kontemporer di indonesia hari ini.
Leviathan Thomas Hobbes
bisa kita artikan hari ini sebagai konsep negara kuat yang mampu mengendalikan
dan mengatur aturan secara mutlak tanpa terkecuali.
Menurutnya konsep negara
seperti inilah yang mampu memberikan kedaulatan bagi rakyatnya, karena hanya
negara kuat yang bisa menegakan aturan dan meniadakan konflik.
Pemahaman tersebut tercermin
dari konsep negara kuat versi Prabowo, baginya negara kuat adalah negara yang
mumpuni dari bidang militer ditopang dengan gaya tegas dan terpimpin.
Konsep itu bisa kita
lihat secara praktis dari kebijakan presiden terkait pembelanjaan alat-alat
pertahanan yang meningkat secara signifikan padahal di sisi lain beliau juga
berbicara soal efisiensi.
Belum lagi Revisi UU TNI
yang berupaya untuk memperluas tugas dan wewenang tentara dalam urusan sipil,
ini memperjelas bahwa prabowo ingin memperkuat negara dari sisi militeristik.
Kemudian secara politis
Prabowo juga melakukan upaya rekonsiliasi dengan lawan politik untuk
menghilangkan oposisi dari kekuasaan.
Dari penjabaran tersebut
saya memahami bahwa hobbes dan prabowo memiliki pandangan yang sama soal negara.
mereka memahami negara harus memiliki otoritas absolut agar bisa mengendalikan
dan mengatur hukum secara mutlak tanpa terkecuali.
Tapi perlu kita ketahui
bahwa banyak filsuf lain yang mengkritik gagasan Hobbes tentang negara absolut.
Mereka menilai bahwa negara absolut memiliki potensi penindasan terhadap rakyat
karena cenderung otoriter.
Bahkan banyak orang yang
menganggap bahwa konsep leviathan sebagai cikal bakal otoritarianisme dalam
bentuk negara modern.
Sejarah kemudian
membuktikan bahwa negara yang memiliki wewenang absolut terhadap
rakyatnya cenderung bersikap otoriter, dan ingat otoritarianisme selalu
berseberangan dengan humanisme.
Kesimpulanya adalah
bahwa teori leviathan Thomas Hobbes yang mementingkan otoritas
absolut untuk menciptakan ketertiban dan menghindari konflik memiliki relevansi
dengan gaya berpolitik prabowo yang menonjolkan negara kuat melalui sektor
militer dan kepemimpinan tegas.
Namun demikian, baik teori Hobbes maupun gaya politik prabowo menuai kritik karena keduanya berpotensi mengarah ke praktik otoritarianisme, yang dalam sejarah sering kali bertentangan dengan nilai-nilai humanisme dan kebebasan rakyat.
Author: Fhrzl

Komentar
Posting Komentar