Catatan atas Gugurnya Affan Kurniawan

 


Kabar pilu menggema dari depan pelataran gedung DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia). Di balik panggung demokrasi tercipta cerita lara, sahabat kita Affan Kurniawan gugur dalam perjuangan melawan kekuasaan. Tubuhnya dilahap mesin baja tanpa ampun, meregang nyawa akibat kebengisan tangan negara.

Nama Affan Kurniawan akan tercatat dalam peradaban bangsa Indonesia sebagai pejuang yang dihabisi hanya karena berani bersuara. Ia menjadi simbol betapa mahalnya harga sebuah keadilan di negeri ini, di mana nyawa manusiapun terlihat receh dihadapan Negara. Luka yang ia tinggalkan bukan sekadar jejak ban di aspal, melainkan catatan abadi bahwa kekuasaan kerap kali mencabik-cabik humanisme.

Padahal, mereka yang turun ke jalan adalah orang-orang yang bingung harus berbuat apa lagi, sebab sejak lama sura mereka sudah tidak didengar di ruang formal. Legislatif dianggap sudah tidak mampu mewakili aspirasi rakyat. Pada akhirnya, mereka secara mandiri menyampaikan aspirasi melalui bahasa mereka sendiri.

Kemarahan dan kekecewaan rakyat bukan hanya disebabkan karena orang joget-joget, melainkan hasil akumulasi dari ketidakadilan yang tercipta dari kebijakan yang tidak memihak rakyat kecil. Pajak begitu tinggi, akses pendidikan dan kesehatan yang masih timpang, serta korupsi merajalela, semakin memperlebar jarak antara penguasa dan rakyatnya.

Maka, aksi demonstrasi yang dilakukan rakyat sangat berdasar karena menyangkut substansi amanat Undang Undang  Dasar 1945, yaitu "melindungi segenap bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mewujudkan keadilan sosial."

Mungkin, secara sederhana rakyat kecil hanya ingin memperjuangan haknya. mereka bukanlah orator lantang yang berbicara soal politik, bukan pula pengusaha yang terganggu usahanya, melainkan rakyat biasa yang terdorong turun ke jalan karena keterdesakan hidup. Dengan tujuan murni, mereka turun kejalan hanya untuk menuntut kelayakan hidup.

Di sisi lain, Negara dalam hal ini Presiden selalu mencurigai rakyatnya sendiri, seolah suara yang datang dari jalanan hanyalah ancaman bagi kekuasaan. Bahkan, Prabowo selalu percaya bahwa aksi massa yang terjadi adalah upaya pihak ketiga yang ingin memecah belah bangsa. Ia selalu meyakini bahwa aksi massa  bisa digerakkan sesuai kepentingan.

Padahal, secara teoritis menurut Tan Malaka, aksi massa merupakan respon dari penderitaan rakyat yang lahir dari penindasan struktural politik dan ekonomi. Aksi massa tercipta secara organik dari kesadaran kolektif rakyat yang sedang ditindas. Sederhananya, menurut Tan Malaka bahwa aksi massa tidak bisa digerakan oleh segelintir orang, melainkan lahir secara alamiah.

Menurut Tan Malaka setidaknya ada empat syarat  sehingga terciptanya aksi massa: 1. Adanya penderitaan dan ketidakadilan yang nyata. 2.  Kesadaran kolektif rakyat 3. Tujuan yang jelas 4. Momentum social politik yang pas, dan saya kira ke empat syarat tersebut sudah terpenuhi.

Kemudian, saya percaya gugurnya Affan Kurniawan justru akan menyalakan bara yang lebih besar di hati rakyat. Kemarahan serta kekecewaan tidak lagi bisa dibendung, melainkan berubah menjadi gelombang perlawanan yang semakin menguat. Eskalasi massa tak akan pernah terbendung, sebab peristiwa yang menimpa almarhum bukanlah sebuah akhir, melainkan awal dari babak baru perjuangan rakyat.

Terakhir, saya hanya ingin menyampaikan duka yang mendalam, bukan hanya atas gugurnya Affan Kurniawan, tetapi juga atas matinya keadilan di negeri ini. Semoga peristiwa pilu ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa hari ini tanah air yang kita cintai sedang tidak baik-baik saja. Kehilangan Affan bukan sekadar kehilangan seorang anak bangsa, melainkan hilangnya secercah harapan, yang seharusnya dijaga oleh Negara.

Author: Fhrzl


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RELEVANSI TEORI THOMAS HOBBES DAN GAYA BERPOLITIK PRABOWO SUBIANTO

Final Saga: Prabowo Subianto vs Alexander the Great