Satu Wasiat Singkat
“Ada
seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhamad SAW lalu berkata: ‘Berilah aku
wasiat.’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Jangan marah.’ Orang itu mengulang
permintaannya beberapa kali, namun Nabi Muhamad SAW tetap menjawab: ‘Jangan
marah.’ (HR. al-Bukhari, no. 6116)
Dalam keheningan, khatib jumat
menceritakan bagaimana konteks hadis di atas turun. Pada suatu hari di masa
lalu, ada seorang pria dari kalangan sahabat mendatangi Rasulullah SAW untuk
meminta wasiat (nasihat) yang mudah diingat dan diamalkan, semacam pedoman
praktis dalam hidup.
Rasulullah SAW kemudian menatapnya dan
memberikan jawaban yang sangat ringkas namun penuh makna: “Jangan marah.” Laki-laki itu seakan belum puas. Ia mengulang
permintaannya, berharap Nabi akan menambahkan nasihat lain. Namun, jawaban Nabi
tidak berubah: “Jangan marah.” Bahkan
ketika ia mengulang lagi untuk ketiga kalinya, Rasulullah SAW tetap memberi
jawaban yang sama.
Menurut sebagian ulama, kenapa
Rasulullah SAW memberikan nasihat demikian: “Jangan marah” sampai tiga
kali, tidak lain dan tidak bukan, karena orang yang meminta wasiat tersebut
merupakan orang yang secara tabiat mudah
marah, mudah tersulut emosi dan kerap terbawa perasaan ketika menghadapi
masalah.
Dari hadis dan cerita yang disampaikan
oleh khatib di atas, bisa kita simpulkan, bahwa kita sebagai manusia jangan
mudah tersulut emosi dan tidak menuruti dorongan amarah. Sebab, marah adalah
pintu bagi berbagai keburukan, seperti kata-kata kasar, perpecahan, bahkan
tindak kekerasan.
Walaupun kita tahu, bahwa rasa adalah
komponen hidup bawaan manusia sejak lahir yang tidak bisa dihilangkan. Rasa
adalah keadaan jiwa yang mempengaruhi
keadaan emosinal, seperti marah, sedih dan bahagia. Artinya, marah adalah
bentuk ekpresi dari rasa itu sendiri.
Menurut Imam Al-Ghazali, rasa marah atau Nafs Amarah adalah dorongan dasar dalam diri manusia yang cenderung
condong pada keburukan menginginkan kesenangan, kekuasaan, kenikmatan duniawi
dan kemarahan. Al-Ghazali menempatkan Nafs
Amarah pada tingkatan Nafs paling
buruk dalam diri manusia.
Maka, khatib berkata bersegaralah
kalian meminta ampunan kepada Allah SWT ketika kalian sedang marah dan
janganlah kalian biarkan amarah menguasai hati, sebab ia hanya akan menutup
pintu kebaikan. Ingatlah, karena
sesungguhnya Allah adalah dzat maha pengampun, sebagaimana firman Allah SWT
sebagai berikut:
Dan
bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (QS Ali
Imran 133)
(yaitu)
orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai
orang yang berbuat kebaikan, (QS Ali Imran 134)
Kemudian ayat selanjutnya, menegaskan
barang siapa yang bisa menahan amarah, maka Alla SWT menjanjikan hamparan surga
yang luas, kerena Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Maka jelaslah, menahan amarah bukan
sekadar akhlak mulia, melainkan jalan menuju ridha Allah dan balasan surga.
Setiap kesabaran yang ditunjukkan akan menjadi cahaya di akhirat, dan setiap
pemaafan akan meninggikan derajat di sisi-Nya.
Author: Fhrzl

Komentar
Posting Komentar