Halah, Memang Capek Kerja Hari Sabtu
Hari ini aku kembali emosional, api kecil di dadaku membesar menjilat jantung, kepalaku panas dan mungkin mukaku merah, atau mungkin juga tidak,? karena kulitku aga gelap, jadi bukanya terlihat merah mungkin malah terlihat ungu. Iya hari ini hari sabtu akhir pekan dimana orang lain libur tapi aku masih kerja.
Ngantor di hari sabtu itu tidak mudah, dengan mindset akhir pekan aku bangun kesiangan berangkat kerja dengan baju kusut tidak disetrika sejalan dengan muka acak-acakan kurang gairah, apa boleh buat ini akhir pekan.
Aku datang ke kantor dengan mood kurang baik, sarapan bubur lembek yang sesuai dengan semangatku yang juga lembek. Awalnya pagi itu baik-baik saja hingga ada satu karyawan yang memang aga-aga ngeselin meminta sesuatu hal yang membuatku emosi.
Memang iya sesuatu hal yang ia butuh itu terkait pekerjaan, tapi yang aku permasalahkan bukan karena ia meminta apa, tapi bagaimana cara ia meminta, harusnya sebagaimana manusia hidup normal di Indonesia, ketika kita butuh bantuan maka kita harus meminta tolong, bukan memerintah seperti ke budak.
Walaupun terlihat sepele tapi ini seringkali terjadi dan tiap ini terjadi aku sering merasakan amarah seperti hari ini, kepalaku seperti ingin meledak, tapi apa boleh buat stabilitas lingkungan kerja tetap harus dijaga walaupun aku emosional aku harus tetap terlihat tenang.
Sambil menggerutu kesal mau tidak mau aku kerjakan dan kuselesaikan. maksudku ketika seseorang meminta tolong dengan sopan maka orang akan membantu dengan senang hati dan minimal membantu dengan tidak menggerutu.
Apalagi sebagai orang sunda kita tahu ada peribahasa "hade goreng kubasa" yang artinya secara literal baik dan buruk oleh ucapan.
Kemudian secara filosofis peribahasa tersebut mengajarkan bahwa ucapan atau bahasa memililik peran besar dalam kehidupan berssosial, karena dengan ucapan atau perkataaan kita bisa membuat orang senang atau sedih.
Sambil diam aku berpikir dan bertanya pada diriku sendiri, dari kapan sopan santun hilang? Apakah sebagian besar orang seperti ini, atau hanya terjadi kepada beberapa orang.
Kita semua tahu bahwa negeri kita dikenal dengan negeri yang santun dan ramah, negeri yang memegang adat ketimuran yang menjunjung tinggi nilai tatakrama.
Tapi sopan santun, tatakrama, dam etika sepertinya sudah ditinggalkan oleh masyarakat kita sendiri, aku kira mengembalikan nilai tersebut adalah keniscayaan.
Pendidikan karakter mungkin bisa menjadi jalan keluar dari keadaan ini, pendidikan soal nilai etika harus ditanamkan sejak dini.
Paling sederhana ketika di usia dini anak-anak minimal harus diajarkan tentang 4 kata ajaib, yaitu, tolong, terimakasih, permisi dan maaf.
Dengan itu anak terbiasa menghargai orang lain.

Komentar
Posting Komentar