Film dan Kritik Sosial: Membedah Serigala Terakhir Series dengan Teori Thomas Hobbes
Film merupakan bentuk kreativitas manusia yang lahir dari perpaduan beberapa cabang seni, seperti sastra, teater, musik, bahkan teknologi. Film adalah media hiburan yang diciptakan berdasarkan pengalaman penciptanya, baik pengalaman subjektif yang bersumber dari cara pandang personal maupun pengalaman kolektif yang lahir dari realitas sosial.
Secara umum, film sering dipandang hanya sebagai media hiburan. Namun, tidak sedikit film yang justru mengangkat tema kritik sosial, bahkan sebagian di antaranya dijadikan media propaganda. Hal ini karena selain menyajikan hiburan, film juga dapat menjadi cermin realitas sosial sekaligus alat penyampai pesan tertentu. Melalui visual dan narasi, film mampu menyentuh emosi serta memengaruhi cara pandang penonton.
Serigala Terakhir Series adalah salah satu karya yang mengangkat tema kriminalitas dan kekerasan dengan nuansa kritik sosial terhadap realitas masyarakat urban. Dengan alur cerita penuh konflik, serial ini tidak hanya menyajikan aksi dan ketegangan, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang mendorong manusia terjebak dalam dunia kejahatan.
Sinopsis Serigala Terakhir Series
Serigala Terakhir Series merupakan sekuel dari film Serigala Terakhir (2009) karya Upi Avianto. Serial ini pertama kali dirilis pada tahun 2020 melalui layanan streaming di Indonesia. Tidak seperti film pertamanya yang disutradarai oleh Upi Avianto, serial ini disutradarai oleh Tommy Dewo.
Kisah berfokus pada perjalanan Alex (Abimana Aryasatya), seorang mantan gangster yang baru keluar dari penjara setelah menjalani hukuman 10 tahun akibat keterlibatannya dalam dunia kriminal. Setelah bebas, Alex berusaha hidup normal, menjauhi dunia kriminal, dan menata kembali hidupnya. Namun, masa lalunya terus menghantui sehingga mengganggu upayanya untuk bertobat.
Alex kemudian mendapati bahwa dunia kriminal telah berubah. Kekuasaan geng Naga Hitam sudah berpindah, muncul geng-geng baru yang kekuatannya tidak kalah besar. Pada akhirnya, Alex kembali terseret dalam konflik antar geng dan terjebak dalam lingkaran kejahatan.
Serigala Terakhir sebagai Cermin Realitas Sosial
Serial ini menggambarkan realitas urban di Indonesia. Ketimpangan sosial, maraknya kelompok kriminal, lemahnya penegakan hukum, dan minimnya ruang reintegrasi sosial merupakan masalah nyata yang disajikan dalam bentuk dramatik. Serial ini ingin menunjukkan bahwa kekerasan dan kriminalitas bukanlah sekadar pilihan individu, melainkan produk dari struktur sosial yang timpang dan rapuh.
Eksistensi geng Naga Hitam bukan sekadar fiksi. Ia adalah cerminan dari realitas, di mana anak muda yang tersisih dari masyarakat mencari komunitas alternatif untuk bernaung. Ketidakmampuan negara dan masyarakat menyediakan ruang aman, pendidikan, serta lapangan kerja mendorong lahirnya solidaritas semu berbasis geng.
Selain itu, praktik bisnis ilegal seperti perdagangan narkoba digambarkan seolah menjadi hal biasa. Peredaran narkoba yang bebas menjadi representasi lemahnya kontrol negara dan korupnya aparat penegak hukum. Praktik suap dan ancaman memperlihatkan betapa penegakan hukum tidak berjalan dengan baik.
Kondisi Alex sendiri seolah menggambarkan keterpaksaan individu yang terjerumus kembali ke dunia gelap meski sebenarnya ingin keluar. Hal ini menjadi simbol keterbatasan manusia dalam melawan arus konstruksi sosial yang sudah mapan. Mau tidak mau, Alex harus kembali menjadi seorang kriminal.
SERIGALA TERAKHIR DALAM PERSPEKTIF TEORI THOMAS HOBBES
Homo Homini Lupus
Hobbes berpendapat bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Ungkapan ini menggambarkan karakter dasar manusia, egois, mementingkan diri sendiri, dan selalu berusaha mempertahankan hidupnya.
Dalam pemahaman ini, manusia dipandang sebagai ancaman terbesar bagi sesamanya. Layaknya serigala buas, manusia cenderung saling memangsa. Siapa yang kuat, dialah yang berkuasa, seperti hukum rimba.
Hal ini tampak dalam film Serigala Terakhir Series, di mana serigala menjadi simbolisasi manusia yang hidup di dunia kriminal. Mereka dipandang sebagai predator, jika tidak memangsa, maka mereka akan dimangsa.
Bahkan dalam salah satu dialog, tokoh bos mafia bernama Bos Delon menyatakan bahwa mereka hidup di dunia “anjing makan anjing.” Ungkapan ini selaras dengan gagasan Hobbes bahwa manusia pada dasarnya adalah serigala bagi sesamanya.
State of Nature
Menurut Hobbes, manusia dalam keadaan alamiah (state of nature) hidup tanpa aturan bersama. Dalam situasi ini, setiap orang bebas melakukan apa saja demi bertahan hidup dan mencapai kepentingannya.
Namun, kebebasan mutlak itu justru menimbulkan ketakutan dan kecurigaan. Karena siapa pun bisa menjadi ancaman, manusia cenderung melindungi diri dengan menyerang orang lain terlebih dahulu. Akibatnya, konflik menjadi tak terhindarkan.
Kondisi ini tampak relevan dalam Serigala Terakhir Series. Dunia kriminal yang digambarkan menyerupai state of nature, hidup di luar aturan bersama, tanpa kepastian hukum. Di sana, manusia saling menyakiti, menjebak, bahkan membunuh demi kepentingan pribadi. Tanpa aturan bersama yang mengikat, naluri dasar bertahan hidup menjadi dominan, sehingga kekerasan dijadikan solusi utama dalam menyelesaikan konflik.
Bellum Omnium Contra Omnes
Bellum omnium contra omnes atau “perang semua melawan semua” adalah konsekuensi dari konflik individu yang tidak pernah berakhir. Manusia kemudian berkelompok untuk mempertahankan hidup, karena menyadari bahwa kekuatan individu terbatas.
Aliansi pun terbentuk, dan konflik antar individu berkembang menjadi konflik antar kelompok. Inilah yang terjadi dalam Serigala Terakhir: konflik yang awalnya bersifat pribadi akhirnya meluas menjadi perang antar geng mafia.
Leviathan
Leviathan adalah simbol otoritas tertinggi dan absolut yang digagas Hobbes sebagai solusi atas kekacauan hidup manusia. Menurutnya, kehidupan manusia hanya bisa terkendali jika ada kekuasaan mutlak yang menertibkan.
Dalam Serigala Terakhir Series, gagasan ini tercermin pada tokoh Reno, salah satu antagonis. Reno berpendapat bahwa dunia mafia harus dikuasai oleh satu penguasa tunggal agar lebih teratur. Tokoh Reno menjadi representasi pemikiran Hobbes dalam dunia kriminal, bahwa kekuasaan absolut dibutuhkan untuk menghentikan kekacauan.
Kesimpulan
Serigala Terakhir Series bukan sekadar tontonan bergenre kriminal, melainkan sebuah karya yang sarat kritik sosial sekaligus refleksi filosofis. Melalui kisah Alex dan dunia mafia yang keras, serial ini memperlihatkan bagaimana manusia yang hidup tanpa aturan bersama cenderung terjebak dalam pertarungan ego, saling memangsa, dan mempertahankan hidup dengan cara apa pun.
Hal tersebut sejalan dengan teori Thomas Hobbes, terutama konsep homo homini lupus yang menggambarkan manusia sebagai ancaman terbesar bagi sesamanya, state of nature yang memperlihatkan kehidupan tanpa hukum, serta bellum omnium contra omnes yang memunculkan perang semua melawan semua, baik dalam lingkup individu maupun kelompok. Pada akhirnya, teori Hobbes tentang Leviathan perlu adanya sebagai otoritas absolut yang menertibkan kehidupan manusia, juga tergambar melalui tokoh Reno yang menghendaki adanya satu penguasa tunggal dalam dunia kriminal.
Dengan demikian, Serigala Terakhir Series tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi cermin realitas sosial yang relevan dengan pemikiran Hobbes. Serial ini menunjukkan bahwa tanpa hukum dan kekuasaan yang kuat, kehidupan manusia akan selalu dikuasai konflik, kekerasan, dan perebutan kuasa, layaknya hukum rimba di mana yang kuatlah yang berkuasa.
Author:Fhrzl


Komentar
Posting Komentar