Taubat: Jalan Kembali Menuju Allah




Siang ini, aku kembali melaksanakan sholat Jumat di masjid yang biasanya tidak jauh dari tempat kerja. Aku duduk dengan khusyuk karena khatib jumat hari ini kebetulan adalah salah satu ustadz yang aku sukai, sebab gaya ceramahnya sederhana, mudah dimengerti, dan ditopang dengan suara yang bagus.

Aku menyimak khutbah yang sedang beliau sampaikan dengan tema taubat. Ceramah diawali dengan menjelaskan bahwa manusia adalah tempatnya salah dan tidak luput dari dosa. Oleh karena itu, Tuhan memberikan kasih sayang yang luas agar manusia kembali kepada-Nya dengan cara bertaubat.

Secara bahasa, beliau menjelaskan bahwa taubat berarti “kembali”, sedangkan secara istilah taubat adalah kembali kepada Allah dengan meninggalkan dosa, disertai penyesalan, tekad yang kuat untuk tidak mengulanginya, dan memperbaiki diri sesuai ajaran agama.

Setelah menjabarkan definisi taubat, beliau menyebutkan ada tiga tingkatan taubat menurut para ulama:

Taubat Dari Dosa Kecil dan Dosa Besar

Ini adalah jenis taubat yang paling sering kita pahami. Dosa besar seperti membunuh, zina, mencuri, dan minum minuman keras wajib segera ditaubati dengan meninggalkannya, disertai penyesalan yang tulus, lalu memperbaiki diri. Begitu pula dosa kecil yang dianggap sepele, karena jika terus dilakukan dapat menjadi dosa besar.

Taubat pada tingkatan ini mengharuskan kita menghentikan perbuatan dosa, menyesal dengan tulus, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Taubat ini menjadi pondasi dari semua bentuk taubat karena berkaitan langsung dengan perilaku lahiriah yang melanggar syariat.

Taubat Dari Kelalaian Terhadap Allah SWT

Kelalaian yang dimaksud adalah ketika kita tidak mengingat Allah dalam setiap aktivitas, meskipun secara lahiriah tidak melakukan dosa. Misalnya, terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga jarang salat tepat waktu, jarang berdzikir, atau jarang membaca Al-Qur’an.

Taubat pada tingkatan ini menuntut kita untuk kembali mengingat Allah dengan memperbanyak istighfar, dzikir, dan memperbaiki ibadah agar selalu didekatkan kepada-Nya.

Taubat Batiniah

Ini adalah tingkatan taubat tertinggi. Taubat batiniah bukan hanya meninggalkan dosa lahiriah dan kelalaian, tetapi juga membersihkan hati dari sifat-sifat buruk seperti ujub, riya, takabur, dan sombong.

Tingkatan ini mengajarkan kita untuk bermuhasabah secara mendalam demi menyadari dosa-dosa yang mungkin tidak kita sadari. Taubat batiniah biasanya dilakukan oleh orang-orang saleh yang dikasihi Allah SWT.

Setelah menjelaskan tingkatan-tingkatan taubat, khatib menyampaikan satu ayat yang artinya:

“Dan bersegeralah kamu kepada (ampunan) Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”(QS. Ali Imran: 133)

Beliau menerangkan bahwa setiap orang berhak bertaubat, karena dalam ayat tersebut Allah sudah berjanji untuk memberikan ampunan kepada siapa saja yang ingin bertaubat. Bahkan ampunan Allah berlaku selama nyawa masih di kerongkongan, sebagaimana hadis berikut:

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama (ruh) belum sampai di tenggorokannya.”(HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Demikian yang mampu aku dengarkan dan aku ringkas dalam bentuk tulisan dari khutbah hari ini. Akhir kata, semoga kita menjadi orang-orang yang dirahmati oleh Allah SWT.


Author: Fhrzl

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RELEVANSI TEORI THOMAS HOBBES DAN GAYA BERPOLITIK PRABOWO SUBIANTO

Catatan atas Gugurnya Affan Kurniawan

Final Saga: Prabowo Subianto vs Alexander the Great