Sosialisme dalam Dua Lidah

 



Gagasan sering kali terlahir dari kegelisahan. Ada yang lahir dari kegelisahan Revolusi Industri di Eropa, ada pula yang lahir dari kolonialisme di Hindia Belanda. Karl Marx maupun H.O.S. Tjokroaminoto adalah dua tokoh yang memiliki kegelisahan atas realitas yang terjadi di tempatnya masing-masing.

Kegelisahan Marx adalah soal relasi antarkelas yang menimbulkan penindasan. Ia menganggap bahwa konflik antarkelas akan terus terjadi jika tidak diselesaikan. Menurutnya, penyelesaian tersebut harus dilakukan dengan menggulingkan kelas penguasa.

Di sisi lain, Tjokroaminoto gelisah dengan kolonialisme yang terjadi di Hindia Belanda. Ia melihat potret penderitaan bangsanya dijajah oleh bangsa lain. Menurut Tjokroaminoto, bangsanya harus melawan penjajahan dengan cara bersatu dan berpendidikan.

Dari kegelisahan keduanya lahirlah gagasan tentang keadilan versi masing-masing. Walaupun berbeda konteks dan pemikiran, keduanya dikelompokkan dalam satu konsep: sosialisme.

Sosialisme Karl Marx

Karl Heinrich Marx lahir pada 5 Mei 1818 di Jerman. Ia dilahirkan dari keluarga kelas menengah yang cukup berpendidikan. Sejak muda, Marx memiliki ketertarikan pada filsafat, sejarah, dan politik.

Karl Marx hidup di era Revolusi Industri Eropa. Baginya, dunia industri Eropa waktu itu terlihat seperti arena pertarungan antara dua kelas utama, yaitu kelas borjuis (pemodal) dan kelas proletar (pekerja).

Menurutnya, penindasan dan ketidakadilan terjadi karena adanya perbedaan kelas. Borjuis sebagai kelas yang berkuasa secara modal akan selalu menindas kelas proletar yang tidak punya kuasa atas modal.

Penindasan dan ketidakadilan yang dimaksud bukan hanya disebabkan masalah moral, melainkan merupakan konsekuensi struktural dari sistem ekonomi yang mengedepankan akumulasi modal (ekonomi kapitalis).

Sistem ekonomi kapitalis memungkinkan akumulasi sebesar-besarnya dan menekan ongkos produksi sekecil-kecilnya, sehingga pekerja mendapatkan upah yang tidak sepadan dengan pekerjaannya. Marx berpendapat bahwa praktik ekonomi kapitalis harus diperangi karena merupakan bentuk kejahatan.

Menurutnya, kelas pekerja harus terbebas dari keadaan tersebut. Untuk bebas kelas pekerja harus melakukan gerakan revolusi proletariat untuk mengambil alih kekuasaan, agar dapat menciptakan masyarakat tanpa kelas, di mana alat produksi menjadi milik bersama.

Marx meyakini bahwa ketika masyarakat tanpa kelas terwujud dan alat produksi sudah dimiliki bersama, keadilan akan tercipta dengan sendirinya, bahkan secara otomatis meniadakan ketimpangan, karena orang akan diupah sesuai tenaga yang dikeluarkan.

Pemahaman Karl Marx ini lahir dari materialisme historis sebagai metode analisis sejarah yang menekankan bahwa perkembangan masyarakat dan peradaban manusia terjadi melalui konflik dan kontradiksi di dalamnya. Akal, pengalaman indrawi, dan realitas dijadikan sebagai landasan pemikirannya.

Sosialisme Tjokroaminoto

Haji Oemar Said Tjokroaminoto lahir pada 16 Agustus 1882 di Ponorogo, Jawa Timur, di Negeri Hindia Belanda. Ia lahir dari keluarga priyayi Jawa yang memiliki privilege pendidikan karena status sosial.

Tjokroaminoto lahir dalam keadaan bangsanya sedang dijajah bangsa asing. Dalam hidupnya, ia melihat potret penderitaan bumiputra (orang asli Nusantara) yang diakibatkan oleh penindasan kolonial Belanda.

Praktik kolonialisme Belanda terhadap Nusantara dianggap sebagai bentuk penindasan, karena menciptakan dua kelas utama, yaitu bumiputra yang dijajah dan kolonial yang menjajah.

Menurut Tjokroaminoto, penjajahan harus dihapuskan, ketimpangan harus dihilangkan, karena bertentangan dengan nilai kesetaraan, persaudaraan, dan kemerdekaan.

Bukan hanya kolonialisme, kapitalisme pun baginya harus diperangi, karena kolonialisme hanyalah salah satu cara kapitalisme memperluas pasar untuk mengakumulasi modal sebanyak-banyaknya.

Berangkat dari masalah tersebut, Tjokroaminoto berpikir bahwa bangsa harus terbebas dari penjajahan, melawan penindasan, dan menegakkan keadilan demi meraih kemerdekaan.

Menurutnya, untuk terbebas dari penjajahan, bangsa harus bersatu melawan dengan cara fokus pada pendidikan bumiputra dan perjuangan politik melalui nilai-nilai Islam.

Pendidikan menjadi senjata utama untuk melakukan perlawanan. Melalui pendidikan diharapkan muncul kesadaran bagi bumiputra, dan secara praktis, pendidikan juga dapat menjadi jalan untuk merebut kemerdekaan secara politis.

Pemahaman sosialisme Tjokroaminoto dilandasi oleh nilai kesetaraan, persaudaraan, dan kemerdekaan yang merupakan hasil interpretasi dari ajaran Islam. Ia menciptakan bentuk sosialisme yang khas, yang didasarkan pada keyakinan tauhid.

Sosialisme dalam Dua Lidah

Pada akhirnya, Marx maupun Tjokroaminoto adalah dua sosok yang berbicara soal keadilan. Keduanya memiliki semangat yang sama, yaitu melawan penindasan.

Semangat Marx termanifestasi dalam gerakan perjuangan kelas, sedangkan Tjokroaminoto terimplementasi dalam gerakan perjuangan umat dan bangsa.

Meskipun secara landasan berbeda Marx membangun sosialismenya di atas teori materialisme historis, sedangkan Tjokroaminoto menciptakan sosialisme yang khas berdasarkan keyakinan tauhid, tapi visi keduanya bermuara pada tujuan yang sama, yaitu menegakkan keadilan bagi manusia.

Author: Fhrzl

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RELEVANSI TEORI THOMAS HOBBES DAN GAYA BERPOLITIK PRABOWO SUBIANTO

Catatan atas Gugurnya Affan Kurniawan

Final Saga: Prabowo Subianto vs Alexander the Great